Pages

Sehari Mampu Jual Telur Panggang 100 Butir

Minggu, 27 Juli 2008

TELUR asin makanan yang satu ini bukan asing bagi masyarakat Brebes. Saat ini di sejumlah gerai oleh-oleh, makanan khas Brebes ini akan mudah ditemui. Dalam perkembangannya, banyak masyarakat yang melakukan inovasi agar telor asin lebih variatif baik rasa mau pun proses pembuatannya. Lalu seperti apakah telur asin panggang ini?

Melewati jalan Pantura Brebes, mudah dijumpai sentra-sentra telur asin di pinggir-pinggir jalan. Telur yang identik dengan warna hijau kebiru-biruan itu ditumpuk rapi membentuk gunung sehingga mudah dilihat pengguna jalan dengan leluasa. Tetapi ada satu pengusaha telur asin ayng memproduksinya dengan cara memanggang, bukan direbus seperti pada umumnya.

Papan nama tertuliskan Telor Asin Panggang Rosid di jalan Sultan Agung Saditan Brebes itu, jika dicermati memang berbeda karena menggunakan tambahan “Panggang”. Pemiliknya adalah M. Nurosidin. Ia memulai usahanya sejak setengah tahun lalu. Usaha baru yang dirintisnya itu berawal ketika ia melihat selama ini jenis dan telur asin monoton, hanya seperti itu-itu saja.

“Tadinya saya ingin membuat telur asin rasa pedas, tetapi saya pikir-pikir lagi lebih baik saya membuat alternatif lain yaitu membuat telur asin dengan proses lebih cepat yaitu dipanggang,” ungakapnya.

Dia menjelaskan, walaupun prosesnya lebih cepat, untuk membuat telur asin panggang, ia juga harus ekstra hati-hati karena telur mudah sekali hancur atau pecah ketika dipanggang. Cara membuat telur asin panggang ini juga tidak jauh berbeda dibandingkan telur biasa. Proses pembuatan awal masih serupa dimana menggunakan cara-cara tradisional, bahan-bahan seperti bubuk batu bata, abu, dan garam untuk membungkus telur juga digunakan. Kemudian didiamkan selama 15 hari. Setelah itu barulah pada rposes terakhir telur bebek tersebut dipanggang.

Dan yang membedakan telur asin panggang debandingkan telur biasa, rtasanya lebih matang dan warnanya agak kecoklatan.

Kendati usia usaha yang digeluti masih terbilang muda, namun dalam satu hari Nurosidin bisa menjual 100 butir.

“Telur itu sudah dip[asarkan di restoaran, hotel, dan saya titipkan juga disupermarkat.

Nurosidin menjual harga perbutir telur panggannnya Rp. 1.200.

Read more ...

Pemegang Merek Telur Pangang

Minggu, 27 Juli 2008

KEMAJUAN teknologi menumbuhkan kreativitas perajin telur asin. Paling tidak, bila dahulu kita hanya mengenal telur asin, sekarang ada telur panggang, bakar, oven.

M Nurosidin SPd(51) adalah salah satu seorang pemilik merek telur panggang.”Sebelum ada telur bakar dan oven, saya yang kali pertama menciptakan telur panggang,” tandas guru SMP Negeri 1 Wanasari Brebes itu.

Dia risi dengan adanya banyak pihak yang mengaku sebagai pencipta telur panggang. Karena itu, jauh sebelum banyak orang mengklaim, dia meminta surat keterangan dari Dinas Penanaman Modal, Perindustrian, dan Perdagangan Brebes untuk ditetapkan sebagai perajin yang kali pertama mencetuskan gagasan pembuatan tekur asin panggang.

“saya sudah mendapat surat keterangan itu pada 23 Juni 2004. Nantinya akan kami daftarkan hak ciptanya di Departemen Hukum dan HAM.”

Telur panggang olahan suami Eeng Rokhaeni itu memiliki kandungan air rendah, rasa masir dan gurih.

Tidak Amis

“kalau sudah dimasak, tidak amis,” ujar Hadi(31), seorang penggemar.

Nurosidin telah membuktikan kualitas produknya tersebut melalui tes di Balai POM Semarang.

Kini, dalam sehari dirinya mampu memproduksi paling sedikit 500 butir dengan harga jual Rp. 1500 per butir.

Untuk penjual produknya, penggemar fotografi itu merangkul beberapa rumah makan besar atau restoran.

Ciri Produknya, selalu disertai peringatan,”Awas Barang Tiruan” pada kemasannya. Dia juga menyertakan alamat usahanya di Jalan Sultan Agung 13 Brebes.

Read more ...

Permintaan Telur Asin Meningkat

Minggu, 27 Juli 2008
  • Pedagang Kesulitan Bahan Baku

Berasa Gurih

Dalam satu hari, kini dia bisa menjual 500 butir telur panggang. Menurut dia, rasa telur panggang lebih gurih. Keunggulan telur panggang, antara lain kadar air rendah dan jauh dari bau amis.

Pernyataan serup[a dikemukakan penggagas telur panggang, Moch Nurosidin SPd. Lelaki yang sehari-hari menjadi guru SMP Negeri 01 Wanasari, Brebes, sudah memproses ratusan ribu telur itik menjadi telur panggang di kediaman Jl Sultan Agung No 13 Kota Brebes. Sebagai pencipta telur asin panggang, dia telah mencatatkan diri ke Dinas Penanaman Modal Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Brebes.

Di rumahnya yang kecil, Nurosidin mengatakan, menjelang Lebaran ini, dia sudah menyiapakn 15 ribu butir. Jumlahnya tersebut lebih besar daripada Lebaran tahun lalu, yang hanya 5.000 butir. Karena terjadi peningkatan, dia terpaksa menambah tenaga kerja, dari semula empat orang menjadi enam orang.

Suami dari Eeng Rokhaeni itu optimistis, permintaan telur asin H-3 terus bertambah. Bahkan, dia memprediksi bakal kewalahan mengatasi konsumen.

“Sekarang saja sudah ramai, nanti H-3 pasti tambah ramai,” tambahnya. Hingga saat ini, dia mengaku belum kesulitan bahan baku.

Menurut dia, harga telur panggang satu butir Rp 1.300 atau terjadi kenaikan Rp 100 per butir dibanding Lebaran tahun lalu, sedangkan telur asin biasa antara Rp 1.200 sampai Rp 1.300.

Read more ...

Telor Panggang Siap Go Internatioal

Minggu, 27 Juli 2008
BREBES – para pengrajin telur asin di Kabupaten Brebes, belakangan ini telah mengembangkan produk baru berupa telur asin panggang. Dan ternyata siap menuju pasar Internasional. Pasalnya dalam waktu dekat, produk baru hasil temuan M Nurosidin SPd yang nota bene warga asli Brebes ini bakal diikutsertakan oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Cabang Brebes dalam promosi produk unggulan di Roterdam Belanda.
Ketua Kompartemen Investor dan Perbankan HIPMI Cabang Brebes, Wihanto SE kepada Radar, Rabu (25/5) kemarin mengatakan, langkah membawa produk baru ini ke pasaran internasional dilakukan dalam upaya mengukuhkan produk unggulan asal Kabupaten Brebes. Selain produk telur asin panggang itu, dalam promosi tersebut pihaknya juga akan membawa produk Brebes lainya. Seperti, sanggul, terasi, udang ebi, dan dan palinbg tidak langkah ini nantinya diharapkan dapat meningkatan pendapatan masyarakat. ”Kebetulan saat ini HIPNI Jawa Tengah telah membuka house trading Central Java di Roterdam Belanda, sehingga untuk akses pasar kesana kami tidak mengalami kesulitan,” katanya.
Sementara itu, M Nurosidin SPd selaku penemu varietes baru dari produk telur asin ini mengatakan, dibanding dengan jenis telur asin yang di produksi secara biasa, telur asin panggang ini memiliki keunggulan. Meski secara bentuk fisik tidak memilki perbedaan yang mencolok, namun dari segi rasa lebih gurih. Disamping itu, keunggulan lain yang dimilkinya adalah kadar air yang dikandungnya rendah dan tidak terlalu berbau amis. “Saya berharap produk ini nantinyta bisa menjadi ciri khas lain dari Brebes,” ujarnya yang juga bekerja sebagai Guru di SMP Negeri I Wanasari itu, singkat.
Read more ...

Sejarah Yang Belum Tercacatkan

Minggu, 27 Juli 2008

Berbicara tentang ayam panggang atau ikan panggang tentu bukanlah hal yang asing bagi kita Namun lain halnya dengan telor asin panggang ciptaan Mochammad Nurosidin, S.Pd, warga asal saditan Brebes ini. Bagaimana rasa telor asin panggang tersebut, baiknya kita ikuti penulusuran wartawan Mitra bersama pemilik usaha Telor Asin panggang satu–satunya di Brebes.
Sejak dikeluarkan SK dari Deprindag 23 Juni 2004, Mochammad Nurosidin yang akrab disapa Rosid, memulai usaha di Rumahnya sendiri di jalan Sultan Agung 13 RT 01/IV Brebes. Berbeda dengan telor asin pada umumnya yang proses pemasakannya di rebus, telor asin panggang buatan Rosid pemasakannya melalui pemanggangan oven. Makanya warna telor asin panggang agak buram coklat tidak rata dibanding dengan telor telor asin rebus yang licin dan bersih. Kerak telor berwarna kecoklatan dikarenakan penguapan garam yang sudah masuk kedalam telor. Proses pembuatan bisa memakan waktu sampai 10 hari. “Sebenarnya bisa sampai lima belas hari, tapi tidak saya lakukan karena takut merubah rasa” tutur Rosid pria kelahiran 23 Mei 1956 kepada Mitra. Rosid juga menuturkan kalau telor ciptaannya dijamin berbeda rasanya dan rendah kalori.
Usaha Telor Asin Panggang ini dilatarbelakangi karena ingin adanya peningkatan taraf ekonomi bagi keluarga Rosid. Timbulnya ide untuk menciptakan usaha yang di daerahnya belum ada berlangsung sudah cukup lama. Sebelumnya ia pernah bereksperimen dengan telor asin pedas. Berkali – kali dilakukan percobaan terjadi gagal produk. Namun Rosid tak mau menyerah. Dari mencoba telor asin rasa pedas beralih ke telor asin panggang, namun awalnya juga gagal. Hingga suatu saat, berkat keuletannya Rosid berhasil menemukan atau membuat alat pemanggang telor sendiri.
Sekarnag Rosid dalam datu hari Rosid sudah bisa memproduksi 500 butir. Telor Asin Panggang buatan Rosid ini bisa bertahan hingga 10 hari.” Lebih enak lagi kalau disimpan dilemari es dan di hangatkan kembali dengan cara dikukus” ucap pria yang juga berprofesi sebagai guru SMP Negeri 1 Wanasari.
Saat ini Telor Asin Panggang Rosid sudah menyebar sampai keluar kota. Dari warung makan lesehan sampai ke kelas hotel. Rata–rata mereka berdatangan memesan sendir. Hanya saja ganjalan pria penggemar fotografi ini sekarang beredar telor asin panggang sejenis namun kualitas berbeda. Hingga ia ingin sekali karya ciptaannya dapat dipatenkan menjadi miliknya dan dicatat dalam sejarah penemuan di Kabupaten Brebes.
Read more ...

Izin Hak Paten Telor Asin Sulit Diperoleh

Minggu, 27 Juli 2008
BREBES – Kota Brebes sejak dulu hingga sekarang identik dengan telor asinnya. Namuyn ironisnya, untuk memperoleh legalitas izin hak paten penemu jenis telur asin panggang dari Departemen Perdagangan, terasa sulit untuyk memperoleh. “Entah apa yang menjadi penyebab, sehingga aparat Deperindag itu merasa kesulitan untuk menerbitakan hak paten yang kami ajukan,” ungkap Moch Nurosidin.
Moch Nurosidin, yang mengaku sebagai penemu telor asin panggang, ketika ditemui pekan lalu mengatakan, produksi telur asin panggang telah diakui. Ia dinyatakan sebagai “Penemu Telor Asin Panggang Pertama di Dunia”, katanya seraya menjelaskan, telor asin panggang yang ia buat, telah mengikuti pameran di dalam dan di luar negeri.
Namun ketika ia mengajukan hak paten, bahkan kalau tidak salah sudah dua tahun lebih. Namun bukannya kemudahan yang diperoleh, tapi justru sebaliknya, yang ia peroleh disuruh menyediakan uang sebesar Rp.5.000.000 oleh oknum PNS. Uang tersebut dimaksudkan untuk mengurus surat ini.
“Namanya sudah dicatat di Dinas Penanaman Modal Perindrustrian dan Perdagangan Kabupaten Brebes,” kata Moch Nurosidin SPd, yang sehari0hari mengajar di SMP 01 Wanasari,Brebes. Sebelumnya Ia mengajar lama di SMP 2 Ambarawa. Lelaki tegar beranak tiga itu, selain bakat seni khususnya fotografi yang sudah mengikuti pameran di Jakarta, Surabaya dan Bali. Ia sadar kalau dunia fotografi tak terlalu banyak memberikan materi. Ia mencoba membuat ekperimen telur pedas. Namun kurang memuaskan. Kemudian ia berekperimen membuat telur asin panggang dengan alat rakitan hasil eksperimennya yang ternyata berhasil.
Menurutnya, telor asin biasa dan panggang tidak berbeda jauh sama-sama menggunakan media mengasinan tanah liat selama 11 hari.”Cuma kalau metode pemanggangannya, baru saya yang tahu rahasianya dan syukur penjualannya pun sudah lebih baik.”Kalau 2 tahun lalu penjualan baru 100 butir per hari. Sekarang sudah mencapai 400 butir. Pembeli rutin dari pegawai bank, guru, karyawan swasta, PNS, dan tamu luar daerah bahkan sampai ke Belanda,”jelasnya.
Selain keunggulan telor asin buatannya yang berkadar air rendah, rasanya gurih, jauh dari bau amis, apabila kalau pemanggangannya sempurna bisa bertahan minimal 10 hari. Namun ia tidak berharap banyak kepada Pemkab. “Cuma mohon dibantu kemudahan mendapatkan Surat Hak Paten Telor Asin Panggang.Toh, hanya ingin untuk mengharumkan nama Brebes,” terangnya.
Read more ...

M. Nurosidin,S. Pd : Guru SMP Yang Juga Penemu Telur Asin Panggang

Jumat, 25 Juli 2008


Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIMPI) Cabang Brebes bertekad untuk terus mempromosikan produk unggulan asal Kabupaten Brebes, hal ini seperti yang disampaikan oleh Wihanto,SE ,ketua Kompartemen investor dan perbankan saat mengadakan perbincangan dengan reporter berita berhias Mulyanto Hari Widodo SH, dan Agus Siswanto, Rabu 25 Mei 2005. sebab sekarang, HIMPI Jawa tengah membuka House Trading Central Java di Roterdam,Belanda.
Diantara produk unggulan tersebut yang akan dipasarkan disana adalah sanggul, trasi, udang ebi, dan telur asin panggang yang merupakan temuan dari saudara M.Nurosidin guru SMP Negeri I Wanasari. Kepada kedua reporter Berita Berhias, Wihanto berharap, agar semua pihak termasuk dunia usaha ikut memaksimalkan pasar produk unggulan Kabupaten Brebes, sebeb kita berusaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu bagi Nurosidin lelaki kelahiran Brebes 23 Mei 1956, mengisahkan bahwa sampai berhasilnya menciptakan produk tersebut, melalui berbagai percobaan. Tidak kurang sekitar 200 sampai 300 butir telur yang dipanggang pecah semua. Tapi Alhamdulillah sekarang saya sudah menemukan alat pemanggangnya, tapi mohon ma’af saya keberatan untuk dipotret, sebab sedang saya usahakan untuk memperoleh hak cipta intelektualnya.
Suami dari seorang isteri bernama Eeng Rokhaeni, guru bantu di SD tengki, yang telah memilki tiga anak masing – masing : Fahmi Rosyid SMP kelas I, Zadi Rosyida siswi SD 10 kelas IV serta Humam Rosyid ( 5 th ), bahwa usaha telah dirintisnya bermula dari keinginan untuk mempertahankan citra agar telur asin Brebes tetap unggulan dan berwibawa dimata konsumennya. Awalnya kami hanya diajak meliput untuk ikut memotret pameran – pameran yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian. Dari situ setelah saya merasa jenuh sebagai fotografer, kami ingin memproduksi telur asin Brebes dengan rasa yang pedas.
Tapi saya pikir dalam komentar konsumen yang telah menikmati, merasa kurang enak, ujar Rosyid alumni Universita Negeri Semarang tahun 1991 yang mengambil jurusan seni rupa dengan judul skripsi “ Perkembangan Organisasi Fotografer ( OFA )dengan pembimbing Syafi’I, MA. Kini sehari – hari diluar sebagai pengusah telur panggang, Nurosidin adalah guru SMP Negeri 1 Wanasari yang memegang mata pelajaran kesenian atau seni rupa. Untuk menemui antara jam tujuh pagi sampai jam dua siang dapat ditemui Jalan Pemuda nomor satu telpon, (0283 671056).
Sedangkan diluar jam kerja sebagai guru Nurisidin beraktifitas sebagai pengusaha telur panggang, bersama isteri, adik dan anaknya di jalan Sultan Agung Nomor 13 Rt.01 Rw 04 Saditan Brebes, untuk mengkontak tidak sulit tinggal menghubungi HP. 081 32701 3455. Nurosidin juga bersyukur bahwa usaha kini telah di akui oleh Dinas Perindustrian sejak 23 Juni 2004 telah memperoleh pengakuan dari Departemen Kersehatan Nomor 012/11.19.2004 dengan Nipik : 09.3329.01307.
Malah tanggal 26, sampai 28 Mei 2005 produk telur asin panggang di daerah Istimewa Yogyakarta, ujar lelaki penggemar warna hijau yang mengagumi tokoh reformasi Prof.Dr.H.Amin Rais MA, artis Titiek Puspa serta lagu – lagu Ebiet G.ADE terutama yang berjudul perjalanan. Saat ini pula Alhamdulillah Produk telur panggang telah diterima di hotel – hotel besar, mal – mal serta warung makan elit. Terus terang sasaran pasasr kami adalah kelas menengah keatas, ujar Rosyid penggemar masakan urab dan ikan.
Lelaki itu berkisah tentang keunggulan yang dimilki telur asin panggang antara lain : 1. kadar air rendah, 2. rasa gurih, 3. bau amis sangat sedikit. Sedangkan cara membuatnya yaitu : 1. bahan baku, telur itik (bebek), garam, abu dan bubukan bata, 2. proses pembuatan : II. Proses pembuatan : mamiliki telur yang baik, pencucian I ( pertama ), dibalut dengan adonan ( abu, bubukan bata dan garam ), diamkan 13 hari, pencucuian II ( kedua ), selanjutnya di panggang, telur panggang dikemas dan siap di pasarkan dan dihidangkan. Bagaimana rasanya …….? Silahkan coba baru komentar, tapi dari kesaksian peserta pres tour dari Humas Kabupaten Demak. Ada kesan sederhana “Ada lagi mas…?
Read more ...

Fantastis, Wong Brebes Mampu Ciptakan Telor Asin Panggang

Jumat, 25 Juli 2008
TELOR bukanlah hal baru dalam kehidupan masyarakat Indonesia, mengingat keberadaan cukup dibutuhkan. Bahkan banyaknya telor asin yang beredar menjadikan masyarakat mulai bisa memahami cara pembuatannya.
Artinya, telor asin yang beredar saat ini bukan hanya didominasi oleh Kabupaten Brebes yang sudah terkenal sejak lama. Namun harus diakui bila telor asin asli Brebes masih lebih diminati masyarakat.
Guna membuktikan jika warga Brebes masih unggul dibanding daerah lain dalm membuat telor asin. Adalah Moch Nurosidin SPd membuat terobosan baru dan tentunya menjadi pertama di Indonesia yang mampu membuat telor asin dengan cara dipanggang bukan direbus seperti pada umumnya.
Awalnya, Rosid demikian sapaan akrabnya, berobsesi ingin menciptakan telora asin rasa pedas tapi menurutnya kurang efektif. Dia lalu berfikir dan memutuskan untuk menciptakan telor asin panggang. “Selama 3 bulan saya melakukan eksperimen sampai menhabiskan 300 butir telor lebih. Sampai akhir Juni 2004, saya baru berhasil menciptakan Telor Asin Panggang,” Ungkap pria kelahiran Brebes 23 Mei 1956 itu lagi.
Keunggulan produk ini, lanjut Rosid , diantaranya memiliki tiga keistimewaan. Yaitu kadar air dalam telor rendah sehingga tigak gampang basi. Rasanya gurih dan kenyal. Keunggulan yang terakhir bau amis tidak menyengat.
Rosid menceritakan bahwa proses pembuatan telor asin panggang sebenarnya nyaris sama dengan telor asin rebus. “Telor Itik yang masih mentah dicuci lalu diberi abu selanjutnya diinapkan sampai 15 hari terus dicuci lagi dan terakhir dipanggang. Alat pemanggangan juga saya buat sandiri,” tuturnya polos. Lagi-lagi ketika LOGIKA minta izin memotret dan proses pemanggangan tidak boleh diperkenankan.
Penemuan Rosid tidak serta merta diterima oleh masyarakat Brebes. Untuk menyakinkan hasil temuannya Ia harus menempuh semacam uji kelayakan dihadapan Dinas Kesehatan. Ungunglah lulus, sehingga mengantongi serifikat sehat dari Dinas Kesehatan Nomor 012/II.19/2004.
Untuk mendapatkan kepercayaan yang lebih lagi dari masyarakat ia-pun mendaftarkan telor asin panggangnya itu ke Dinas Penanaman Modal, Perindustrian dan Perdagangan. Tak kelak Rosid pun akhirnya mengantongi SIUP nomor 043/351 tertanggal 23 Juni 2004. “Tanggal 23 Juni 2004 itu lalu saya jadikan sebagai awal penanggalan penemuan produk kami,” kata Rosid.
Suami dari Eeng Rokhaeni (30) ini dalam menjajakan hasil produknya dari pintu ke pintu. “Melainkan saya membidik pelanggan masyarakat ekonomi menengah ke atas.
Caranya, saya memamerkan produk kami pada setiap ada pameran Produk unggulan seperti di Semarang, Solo, Jakarta, Pekalongan dan kota lainnya. Mall dan rumah makan besar juga sasaran produk kami,”tutur ayah dari Fahmi Rosyid (13), Zadi Rosida (9) dan Humam Rosid (5) sambil menunjukan surat pesanan dari salah satu warung ternama di Brebes.
Sayangnya Rosid hanya mampu memproduksi berkisar antara 100 hingga 150 butir per hari.”Pas lagi ramai kadang kami kewalahan memasok pesanan. Sebab kami hanya memperkejakan orang, itupun keluarga sendiri. Ya… lumayan , bisa bantu-bantu anak sekolah,”tambah Rosid.
Read more ...

Dari Fotografi Beralih ke Telur Asin Panggang

Jumat, 25 Juli 2008
NAMA Brebes identik dengan telur asin. Namun, siapa orang yang pertama kali membuat telur asin, hingga kini belum diketahui. Yang pasti, usaha kerajinan telur asin merupakan pekerjaan terun-temurun.
Mungkin, khawatir ciptaannya kelak dijiplak, Moch Nurosidin – sang penggagas telur asin panggang – telah mencatatkan diri sebagai oarang pertama yang menciptakan telur asin panggang.
“Nama saya sebagai pencipta telur asin panggang sudah dicatat di Dinas Penanaman Modal Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Brebes,” kata Moch Nurosidin SPd, yang sehari-hari suru SMP Negeri 01 Wanasari, Brebes.
Lelaki beranak tiga yang lahir 23 Mei 1956 itu rupanya dikaruniai bakat seni. Selain manjadi guru seni rupa, dalam kesehariannya dia menekuni bidang fotografi.
Dari keahlian memotret, lelaki berkaca minus tersebut mengaku sudah beberapa kali mengikuti pameran foto di Jakarta, Surabaya , sampai Bali. Seluruh rangkaian kegiatan pameran didukung Dinas Penanaman Modal, Perindustrian, dan Perdagangan.
“Pada tiap pameran, saya selalu diajak Dinas Penanaman Modal. Seluruh biaya ditanggung dians itu, dan modalnya hasil potretan,” tambah suami Eeng Rokhaeni itu.
Sadar dunia fotografi yang dia tekuni tak banyak memberikan imbalan materi, Nurosidin yang pernah lama menjadi guru di Ungaran itu kemudian membuat eksperimen “telur asin rasa pedas”.
Namun uji coba itu tidak membuahkan hasil seperti yang dia harapkan. Dia pun kemudian mencoba mambuat telur asin panggang. Alat yang dia gunakan antara lain, alat panggang roti.
Uji CobaBerkali-kali
Menurut dia, uji coba membuat telur asin panggang dilakukan berkali-kali. Sudah ratusan ribu uang dikeluarkan dan berbagai macam alat terbuang percuma. Kini, Nurosidin mengaku sudah memiliki alat memanggang sendiri.
Dia keberatan menyebutkan namanya, apalagi memperlihatkannya, karena takut diketahui orang lain ( takut dijiplak ). Dia hanya bersedia menyebutkan proses pembuatan telur asin panggang, sampai bisa dimakan.
Bahan bakunya tetap telur asin rebus. Bedanya, prosespengasinan menggunakan tanah liat yang dicampur garam. Kemudian setelah diasin maksimal 11 hari, telur yang masih belepotan tanah dicuci dengan air sampai bersih.
Setelah bersih, telur memasuki proses panggang dengan alat khusus ciptaannya. Berapa lama idealnya telur dipanggang? Dia mengatakan, maksimal setengtah jam.
Menurut dia, keunggulan telur panggang ciptaannya adalahberkadar air rendah, rasanya gurih , dan jauh dari bau amis. Hal itu berbeda sekali dengan telur rebus, yang terkadang kalau proses cuci pertama tak bersih menghasilkan bau amis.
Daya tahan telur panggang, apabila proses panggangnya sempurna, akan mencapai 10 hari. “Akan lebih baik kalau disimpan di lemari es. Nanti kalau mau dimakan dihangatkan kembali dengan cara dikukus,” katanya.
Tampilan Kurang Menarik
Risiko telur pecah saat memanggang, sama dengan proses rebus. Karena itu, saat memanggang harus mempunyai teknik sendiri. Diakui, bentuk telur panggang sedikit kurang menarik ketimbang telur rebus.
Pada telur panggang, kulit luarnya terdapat bercak warna kecoklatan yang tak merata. Warna itu ditimbulkan akibat penguapan garam yang sudah masuk kedalam telur. Sedangkan pada telur rebus, bercak dikulit telur sama sekali tidak terlihat.
Produksi telur panggang Nurosidin dalam satu hari antara 150 sampai 200 butir. Kalau lagi ramai, seperti menjelang Lebaran ini, bisa mencapai dua kali lipat.
Dia belum bisa banyak menceritakan keuntungan dari usahanya, karena semua masih dalam rintisan. Tenaga kerja pun dipilih dari kalangan saudara atau famili dekat, istri, dan dia sendiri.
“Kalau ada untung, ya sedikit. Mudah-mudahanan nanti kalau usahanya sudah besar banyak yang pesan,” ujarnya. Satu butir telur panggang dia jual Rp. 1.200, lebih mahal dari telur rebus.
Read more ...